Surat Terbuka Untuk Mantan Sahabat… [Revisi]

Posted on Updated on

Mantan Sahabatku…

Saat kita masih sering bersama di bawah status hubungan yang orang-orang namakan dengan sahabat, kita mungkin berfikir sama bahwa sepenggal momen hidup yang kita lakukan dengan suka cita akan menjadi sesuatu yang membuat kita tersenyum kelak. Senyuman yang membuat kita geleng-geleng kepala karena hal konyol yang kita lakukan. Hal-hal konyol yang sangat kita rindukan. Kenangan yang rela kita tukar dengan apa pun kalau diberi kesempatan untuk bisa mengulanginya..

Tanpa ada yang mau mengaku di antara kita betapa naif dan kekanakan kita kala itu. Kita hanya saling bermimpi dan berkhayal, begitu terbuai dengan pikiran-pikiran indah tentang masa depan. Cerita masa depan yang membuat kita lupa bahwa akan ada kerikil-kerikil yang mengganjal hubungan kita. Kerikil-kerikil yang menjelma menjadi badai untuk hubungan persahaban yang kita miliki. Karena kita tidak siap menghadapi badai kerikil tersebut, kita menjadi jarang berkomunikasi, dan akhirnya tidak pernah lagi saling menyapa. Bahkan untuk memberikan senyum tipis di bibir saat tidak sengaja berpapasan terasa begitu menyiksa dan akhirnya kita menjadi orang asing. Dan kita tidak pernah mau untuk memulai kembali. Kini, meski kita hidup di bawah langit yang sama, tapi kita seperti berada di alam yang berbeda. Sebisa mungkin kita saling menghindari satu sama lain….

Tidak perlu saling tuding siapa yang benar dan siapa yang salah di antara kita, mari kita berfikir ulang dan mengevaluasi diri kita masing-masing. Ini adalah kesalahan kita sendiri. Buah dari ketidakcakapan kita dalam menjalin persahabatan seperti yang mereka contohkan dalam drama-drama yang pernah kita tonton. Wujud dari ketidakmampuan menyatukan perbedaan yang kita miliki menjadi sesuatu yang indah. Ini menunjukkan bahwasanya ada anak cucu adam yang lainnya di dunia ini yang ditakdirkan untuk memiliki hubungan yang tidak harmonis. Bukan kita tidak pernah mencoba, tapi kita gagal sebelum mencoba, seperti bunga yang layu sebelum mekar.

Jika kita terus memaksakannya, mungkin akan ada suatu titik di mana kita akan berada dalam situasi yang begitu pelik. Situasi yang tidak akan mampu kita elakkan. Kita saling menyadari betapa egoisnya diri kita, sehingga tidak seorangpun dari kita yang berusaha memperbaiki persahabatan kita yang kandas karena hal yang sepele. Bagi kita, mungkin ini adalah akhir yang terbaik untuk saat ini. Terlepas bagaimana pun itu. Tidak saling melihat dan tidak saling menyapa mungkin adalah obat yang bisa kita gunakan untuk mengurangi rasa sakit hati dan meredam kepilian yang kita rasakan karena ketidakcocokan kita.

Kita memulai semua ini dengan sesuatu yang baik dan atas dasar semangat persahabatan yang begitu hangat. Tapi siapa yang akan menyangka akhirnya akan seperti ini. Di saat kita sudah sama-sama berusaha, di saat kita sama-sama menjelang dewasa, kita hanya membiarkannya berlalu begitu saja. Karena di masa awal dewasa kita, ini terlalu menyakitkan untuk kita rasa. Beban yang tidak seharusnya kita tanggung.

Kita seolah termakan oleh rayap-rayap waktu yang pada akhirnya mengantarkan kita pada kesadaran bahwa tidak ada yang bisa kita pertahankan dari kecocokan di antara kita, dan tidak baik untuk terus mempertahankannya.Mari kita menata kembali masing-masing yang ada pada kita. Apakah itu rasa sakit hati, luka yang kita pendam. Meski apa yang kita jalani di saat-saat kebersamaan kita dulu sebagai sahabat hanyalah serpihan-serpihan memori pahit untuk di kenang saat ini, perlu kamu tahu bahwa tidak pernah sekali pun aku menyesalinya.

Semoga suatu hari ada waktunya bagi kita untuk mengikhlaskan rasa sakit ini. Dan memori yang kita jalani bersama tidak lagi menjadi duri dalam daging. 

Dalam mimpiku, ada saatnya nanti kita saling tersenyum ramah yang keluar dari dalam hati kita ketika kita berpapasan di jalan, kemudian kita bercengkrama mengingat masa muda kita yang naif, egois dan penuh kebodohan. Rasa sakit yang kita rasakan saat ini, telah menjadi sesuatu yang lucu untuk kita tertawakan. Mungkin ini bentuk dari mimpi besarku yang lainnya, yang mungkin hanya akan berakhir seperti mimpi-mimpiku yang lainnya ketika aku bangun dari tidurku.

Atas apa yang terjadi dan kita rasakan, aku tidak akan meminta maaf. Dan aku juga tidak akan menuntut permintaan maaf darimu. Kenapa? Karena aku masih percaya di dalam persahabatan tidak diperlukan yang namanya kata-kata maaf. Meskipun persahabatan kita telah menjelma menjadi Mantan Sahabat, aku tetap tidak akan meminta maaf.

Satu hal yang aku sadari, kita memulainya dengan baik-baik, tapi kita tidak mampu mengakhirinya dengan baik-baik pula. Terlepas dari itu, mari kita melanjutkan hidup kita masing-masing, karena dunia ini belum akan berakhir meskipun persahabatan kita telah dulu berakhir.

Padang. KOSan Gang Mela 38.

2014.10.13 02:52

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s