[Filsafat Ilmu] Tantangan Masa Depan Ilmu Part 1

Posted on Updated on

A.    KEMAJUAN ILMU DAN KRISIS KEMANUSIAAN

1.      Definisi Ilmu dan Krisis Kemanusiaan

Pengertian kata “ilmu” secara bahasa adalah pengetahuan tentang sesuatu yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang itu.

Ciri-ciri utama ilmu secara terminologi adalah:

  1. Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan.
  2. Koherensi sistematik ilmu.
  3. Tidak memerlukan kepastian lengkap.
  4. Bersifat objektif.
  5. Adanya metodologi.
  6. Ilmu bersumber didalam kesatuan objeknya.

Krisis adalah suatu keadaan dimana terjadinya peralihan dari keadaan lama menuju keadaan baru yang belum pasti. Misalnya, metode lama telah ditinggalkan, tetapi metode baru belum sepenuhnya dapat digunakan, sehingga yang terjadi adalah kebingungan, karena belum adanya metodologi baru yang memadai.

Krisis kemanusiaan merupakan suatu peristiwa atau runtutan peristiwa ancaman kritis terhadap kesehatan, keamanan, dan keberadaan atau eksistensi suatu komunitas atau suatu kelompok besar dalam suatu wilayah luas.

2.      Hubungan antara Ilmu dengan Krisis Kemanusiaan

Suatu kenyataan yang tampak jelas dalam dunia modern yang telah maju ini, ialah adanya kontradiksi-kontradiksi yang mengganggu kebahagiaan orang dalam hidup. Kemajuan industri telah dapat menghasilkan alat-alat yang memudahkan hidup, memberikan kesenangan dalam hidup, sehingga kebutuhan-kebutuhan jasmani tidak sukar lagi untuk memenuhinya. Seharusnya kondisi dan hasil kemajuan itu membawa kebahagiaan yang lebih banyak kepada manusia dalam hidupnya. Akan tetapi suatu kenyataan yang menyedihkan ialah bahwa kebahagiaan itu ternyata semakin jauh, hidup semakin sukar dan kesukaran-kesukaran material berganti dengan kesukaran mental. Beban jiwa semakin berat, kegelisahan dan ketegangan serta tekanan perasaan lebih sering terasa dan lebih menekan sehingga mengurangi kebahagiaan.

Masyarakat modern telah berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih untuk mengatasi berbagai masalah hidupnya, namun pada sisi lain ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut tidak mampu menumbuhkan moralitas (ahlak) yang mulia. Dunia modern saat ini, termasuk di Indonesia ditandai oleh gejalah kemerosotan akhlak yang benar-benar berada pada taraf yang menghawatirkan. Kejujuran, kebenaran, keadilan, tolong menolong dan kasih sayang sudah tertutup oleh penyelewengan, penipuan, penindasan, saling menjegal dan saling merugikan. Untuk memahami gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian itu, maka kehadiran filsafat ilmu berusaha mengembalikan ruh dan tujuan luhur ilmu agar ilmu tidak menjadi bomerang bagi kehidupan umat manusia.

Kemajuan ilmu dan teknologi yang semula bertujuan untuk mempermudah pekerjaan manusia, tetapi kenyataannya telah menimbulkan keresahan dan ketakutan baru bagi kehidupan manusia. Ibarat cerita Raja Midas yang mengiginkan setiap yang disentuhnya menjadi emas, ternyata ketika keinginannya dikabulkan, dia tidak semakin senang, tetapi semakin gelisah bahkan gila. Sebab, tidak saja rumah dan isi rumah menjadi emas, tetapi istri dan anak yang disentuh pun menjadi emas sehingga sang Raja akhirnya meratapi nasip yang kesepian tanpa ada makhluk hidup yang mendampinginya.

Begitu juga kemajuan ilmu dan teknologi, yang semula untuk memudahkan urusan manusia, ketika urusan itu semakin mudah, maka muncul “kesepian” dan “keterasingan”, yakni lunturnya rasa solidaritas, kebersamaan dan silahturrahim. Contohnya penemuan televisi, komputer, dan handphone telah mengakibatkan kita terlena dengan dunia layar.

Tenyata teknologi layar mampu membius manusia untuk tunduk pada layar dan mengabaikan yang lain. Jika manusia tidak sadar akan hal ini, maka dia akan kesepian dan kehilangan sesuatu yang amat penting dalam dirinya, yakni kebersamaan, hubungan kekeluargaan dan sosial yang hangat. Kalau pengaruh teknologi yang demikian semakin dalam, maka dia tidak sadar dari kebutuhan yang sebenarnya.

Pada ilmu bioteknologi, perkembangan yang dicapai sangat maju, seperti rekayasa genetika dan teknologi kloning menandakan kemajuan yang begitu dahsyat sehingga mengkhawatirkan semua kalangan. Dengan rekayasa genetika, dapat diciptakan vaksin yang dapat menghasilkan zat immunoglobulin (zat kebal) terhadap beberapa penyakit misalnya hepatitis, kanker hati dan sebagainya. Tetapi perkembangan rekayasa genetika , ternyata membuat risau para pemerhati hak-hak asasi manusia karena dengan rekayasa genetika tersebut, manusia tidak memiliki hak yang bebas lagi. Tidak saja agamawan dan pemerhati hak-hak asasi manusia, tetapi para ahli bioteknologi pun semakin khawatir karena kalau akibatnya tidak dapat terkendalikan, maka akan terjadi suatu bencana yang besar bagi kehidupan manusia.

Berbagi pencemaran yang berpengaruh terhadap kesehatan fisik biologis dan mental psikologis pun telah menglobal. Dampak negatif dari perkembangan dan kemajuan serta penerapan teknologi yang telah menghasilkan berbagai ketimpangan itu oleh Alvin Toffler (1976) disebut sebagai guncangan hari esok (future shok), yng tidak saja telah menimbulkan guncangan fisik (physical shok), melainkan juga guncangan kejiwaan (psychological shok).

Krisis kemanusiaan tidak saja terjadi akibat teknologi maju, tetapi juga akibat dari kecendrungan, ideologi, dan gagasan yang tidak utuh. Contohnya, ide dan gerakan emansipasi yang dikumandangkan oleh para penggerak feminisme, yang mendorong agar wanita diberi kesempatan yang sama diarea publik dengan laki-laki. Kesempatan ini ternyata dimanfaatkan oleh perusahaan padat karya dengan merekrut pekerja perempuan lebih banyak dari pada pekerja laki-laki. Akibatnya, kaum laki-laki susah mendapatkan pekerjaan dan implikasi lebih lanjut rumah tangga akan berantakan karena perempuan merasa lebih hebat dari pada laki-laki.

Umat manusia sekarang amat tergantung dan dimanjakan oleh teknologi, ketergantungan yang terus menerus menjadikan dia terlena dari eksistensi dirinya yang bebas dan kreatif. Dia kemudian tidak sadar dipenjarakan oleh teknologi itu sendiri, sehingga tidak kreatif dan reflektif lagi. Contoh, teknologi layar membuat manusia tergantung pada layar, bahkan kalau handphonenya rusak atau komputer rusak, maka dia sangat repot karena semua urusan ada disana , mulai dari agenda harian sampai proposal mega proyek.

Kalau sebelum penemuan teknologi maju, manusia terpenjara atau ditentukan oleh alam dan tuhan, maka pada kemajuan teknologi terpenjara oleh teknologi itu sendiri. Artinya, bertambah maju teknologi bertambah banyak aspek yang memenjarakan manusia.

Pada konteks inilah manusia perlu, disadarkan dari penjara yang bernama teknologi. Dia harus sadar bahwa teknologi bukan tujuan, tetapi sekadar sarana untuk  memudahkan urusan. Oleh karena itu, dalam beberapa kesempatan kita perlu membebaskan anak-anak dari pengaruh layar agar mereka tidak tergantung dan terpenjara oleh layar. Acara dilayar adalah realitas yang sudah direkayasa, meskipun cerita itu terjadi secara rill, seperti banjir dan gempa bumi.

Jika kita tidak mau kehilangan eksistensi kemanusiaan dan terhindar dari krisis kemanusiaan, maka kita harus berjuang untuk membebaskan diri dari kungkungan teknologi kembali pada eksistensi awal, yakni manusia yang kreatif dan dinamis. Penyadaran terhadap bahaya yang begitu besar bagi kemanusiaan perlu terus dikumandangkan, terutama kepada penguasa yang memiliki otoritas dalam mengambil kebijakan. Etika global perlu dirumuskan bersama karena krisis akibat teknologi tidak hanya berdampak untuk negara tertentu, tetapi mencakup semua negara. Pemanasan global akibat asap buangan dari pabrik dan kendaraan mengakibatkan es dikutub utara mencair sehingga akibatnya daratan semakin menyempit, padahal jumlah penduduk semakin meningkat. Pada kontes ini, akan muncul berbagai persoalan dan krisis kemanusiaan itu sendiri.

Bila memacu pada pengertian diatas, pengetahuan merupakan mengetahui sesuatu tanpa ada ragu. Misalkan bila cuaca gelap pasti akan turun hujan. Pernyataan tersebut kita yakini tanpa ragu walaupun orang yang kita anggap pintar akan mengatakan bila cuaca gelap pasti akan panas. Kita akan tetap pada pendirian kita karena kita mengetahui hal tersebut tanpa ragu. Hal ini yang disebut pengetahuan yang sebatas hanya mengetahui tanpa ragu ( sekedar tahu ), akan tetapi berlanjut kepada timbul pernyataan mengapa hal itu bias terjadi atau penyebab dari hal itu. Jawaban dari pertanyan atas peristiwa yang telah dicontohkan diatas, itu baru merupakan sebuah ilmu. Jadi ilmu itu tidak hanya sebatas tahu, tapi bagaimana kita memahami dari pengetahuan tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s