Nenek, Selamat Jalan….

Posted on

Badai baru saja berlalu. Kepergiannya sama seperti kedatangannya, tidak didahulukan dengan pemberitahuan atau pun peringatan. Baru saja angin telah membawanya terbang entah kebagian bumi sebelah mana. Aku tidak tahu. Hujan pun telah berhenti, hanya meninggalkan pohon-pohon dan jalanan yang basah dan lembab karenanya. Sehingga meninggalkan sedikit kesunyian dan keheningan yang menakutkanku. Tidak tau kenapa, perasaanku jadi tidak menentu. aku merasa ada sesuatu yang salah. Aku berada dalam suasana yang membuatku merasa tidak enak.

Foto-0096

Benar saja, tidak berselang lama, acik (Acik – panggilan keseharian yang biasa aku gunakan untuk menyapa/memanggil anak bungsu dari adik nenekku yang paling bungsu) datang menemuiku. Melihat ekspresi yang dibawanya yang tidak seperti biasanya, itu menyadarkanku, bahwa badai itu belum berakhir untukku. Melihat caranya memandangku, itu membuatku takut. Takut kalau itu akan diiringi dengan berita yang buruk. Berita yang seharusnya aku ketahui lebig awal.

Minggu, 29 September, 2013, 17.15 WIB kabar itu sampai di telingaku. Nenek telah duluan. Dengan kata lain, Nenek telah tiada. Ya, yang telah tiada itu adalah nenekku. Ia menanyakan kenapa nomor Hpku tidak bisa dihubungi. Kenapa nomor Hpku tidak aktif.

Aku harus bagaimana? Ini bahkan lebih buruk dari ditampar oleh badai yang telah lewat tadi. Ini seperti dunia yang secara paksa diputus dari diriku. Bagaimana bisa? Bahkan terakhir kita bersama kau baik-baik saja. Bahkan di saat kepergianmu, kau tidak sedang dalam sakit yang parah. Kau bahkan menyuruh anak-anakmu untuk tetap bekerja, karena kau merasa baik-baik saja. Seolah kau ingin ketika kepergianmu kau tidak ingin meninggalkan beban berat pada anak dan cucu-cucumu. Kau pergi di saat kau dalam keadaan yang suci. Saat kau baru saja selesai berwudu’. Banyak yang tidak percaya kalau kau pergi begitu saja. Dan aku, bagaimana aku bisa percaya dengan kenyataan yang seperti ini begitu mudah? Dan aku, aku bahkan tidak sempat melihatmu untuk yang terakhir kalinya dalam hidupku.

Aku masih ingat dengan jelas, saat-saat aku sedang malas untuk makan. Kau, dengan jari-jari tanganmu yang sudah tidak kencang lagi, jari-jari tangan yang sudah keriput karena kau sudah tidak muda lagi, kau menyuapi diriku yang sudah bukan anak-anak lagi. Dengan sabar, kau menasehatiku. Kau yang selalu mencemaskan diriku dan pendidikanku. Kau yang selalu tidak kenal lelah ke sana ke mari untuk membantu orang tuaku untukku. membantu dengan sebisamu.

Nek, bahkan hingga saat ini, aku belum meneteskan air mataku karena kepergianmu yang begitu mendadak. Aku belum bisa menangisimu. Bukannya aku tidak bersedih untuk kepergianmu, aku masih belum bisa menerima semua ini. Aku bahkan belum percaya kau pergi meninggalkanku begitu saja. Aku bahkan belum bisa berbuat apa-apa untukmu. Aku bahkan belum melakukan apa-apa untukmu. Aku bahkan belum sempat berterima kasih padamu, dan kau, Kau bahkan tidak bisa melihat bagaimana akhirnya aku nanti, nek. Nenek, Selamat Jalan, dan Terimakasih atas segalanya. Aku mencoba dengan ikhlas menerima semua ini, tapi seperti ada yang kosong. Seperti ada yang meremas hatiku. Sakit.

Aku bertanya pada diriku sendiri, apa aku baik-baik saja? Apa aku akan tetap seperti ini? Apa aku tetap tidak akan menangisi nenekmu yang telah tiada? Apa aku telah menjadi cucu yang begitu buruknya? Yang bahkan tidak bisa meneskan air mata untuk neneknya yang telah tiada? Nenek yang meninggalkannya untuk selamanya. Berulang kali aku mengajukan pertanyaan itu pada diriku sendiri. Aku mungkin telah terlalu jauh. Dan kini, aku menunggu. Menunggu meledaknya perasaanku. Dan sampai saat terakhirmu, aku hanya bisa memberikanmu do’a. Do’aku untukmu….

Snapshot_20130101_17

Tuhan, kau telah memanggil nenekku begitu cepat,

Begitu tiba-tiba…

Kau telah memisahkannya dari kami.

Aku bahkan tidak sempat mengucapkan terimakah padanya.

Tuhan,

Terimalah ia di sisi-Mu,

Tempatkanlah ia di tempat yang layak bagi hamba-Mu yang beriman.

Terimalah amal-amal selama hidup di dunia ini…

Hapuskanlah semua dosa-dosanya di kala ia hidup,

Baik yang ia sadari, maupun yang tidak ia sadari,

Baik yang ia sengaja, maupun yang tidak ia sengaja.

Dan kelak, Tuhan, pertemukanlah hamba kembali dengannya di surga-Mu,

Di kala saatnya sudah tiba bagi hamba-Mu ini.

 

Padang, 10.03.2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s